Mataram – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Evi Apita Maya perluas wawasan kebangsaan dari ratusan warga binaan di Panti Sosial Asuhan Harapan Mataram Nusa Tenggara Barat. Melalui kegiatan sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan yang digelar Minggu (20/6), senator perpanjangan tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) ini edukasi para pelajar warga binaan panti tentang dinamika yang terjadi ditengah masyarakat, dalam kaitannya kebijakan pemerintah dan potensi isu pemecah bangsa.

Dibuka dengan Pancasila, Evi Apita Maya menuntun seluruh peserta sosialisasi untuk memastikan setiap kegiatan yang dilakukan dilingkungan panti tetap dalam pedoman dan norma – norma.

“Beribadah, bersosial, gotong royong dan saling bekerjasama, itu semua hal mendasar yang ada dalam Pancasila. Namun tidak cukup hanya dengan pemahaman saja, melainkan setiap kita harus berfikir kritis juga. Kenapa sih lambang silanya begitu, semua ada filosofinya sebagai pendalaman wawasan,” ungkapnya.

Senator cantik dapil Provinsi NTB ini juga bergerak menuju materi pilar kedua kebangsaan yakni Undang – Undang Dasar 1945. Pendekatan humanis yang disematkan dalam sosialisasi, cukup ampuh untuk membuat pelajar warga binaan mengingat dan memahami dasar regulasi negara tersebut.

“Kepedulian kita dengan negara serta seluruh – seluruh kebijakannya, bisa dibuktikan dari hafal atau tidak Undang – Undang Dasar 1945. Karena poin ini yang menjadi dasar negara menentukan setiap kebijakan untuk menjadikan negara ini sebagaimana yang dicita – citakan,” ujar Evi Apita Maya untuk menguji para peserta sosialisasi.

Pilar berikutnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) lanjut Evi Apita Maya. Memiliki arti yang lebih luas meski konteks penyebutannya sederhana. Pilar ini sangat erat kaitannya tentang bagaimana setiap orang harus memiliki keteguhan diri agar tidak mudah dihasut, tidak terpengaruh tipu daya yang dapat memecah persatuan.

“Kemudian yang terakhir Bhineka Tunggal Ika yang juga erat kaitannya dengan pilar NKRI. Bhineka Tunggal Ika ini bukti nyata bahwa persatuan kita masih terjaga hingga saat ini. Kita berbeda dalam suku, agama, etnik keturunan tetapi kita tetap dalam satu negara kesatuan. Perbedaan – perbedaan itu jangan dijadikan dasar untuk kita saling memecah belah. Bagai seluruh jari kita, bagai anggota tubuh kita yang saling melengkapi,” jelasnya.

Dalam kesempatan ini Evi Apita Maya mendorong pihak panti untuk terus memperbanyak kegiatan – kegiatan yang memperkuat rasa persaudaraan. Karena sebagaimana diketahui, bahwa ratusan warga binaan panti berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang yang juga berbeda – beda.

aNd

Previous articleEvi Apita Maya gelar dialog publik serap aspirasi mahasiswa dikampus UTS
Next articleKementerian PAN-RB, dorong NTB jadi pelopor layanan digital nasional terintegrasi