Lombok Tengah – Bulan Ramadan sering kali dijadikan momentum untuk memperkuat nilai – nilai yang tertuang dalam empat pilar kebangsaan, khususnya dalam konteks kehidupan bernegara. Hal ini menjadi isu sentris Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Evi Apita Maya saat menyosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan kepada ratusan pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Pujut Lombok Tengah pada Senin (16/3).
Evi Apita Maya mengatakan, Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat ideologi Pancasila dan Persatuan Bangsa. Pada poin ini, intensif dengan pemperkuat keharmonisan, antar sesama warga, sesama saudara melalui wujud kebersamaan.

“Berbagi takjil, berbagi sembako itu jiwa kita. Sudah menjadi tradisi kita saling memberi. Kemudian bergotong royong tadarusan, membersihkan tempat ibadah. Saling memaafkan, saling mengunjungi keluarga dan kerabat. Semuanya itu cerminan empat pilar kebangsaan, momentum penguatan ideologi dan persatuan,” jelasnya.
Selain itu bulan suci ini juga dipandang sebagai waktu terbaik untuk menumbuhkan nilai – nilai kesetaraan. “Ketika hari raya semua berkumpul, menggunakan pakaian rapi bersih karena semua ikut merayakan. Ada kesetaraan disitu, tidak ada perbedaan atau disparitas sosial yang nampak,” kata Evi Apita Maya.
Senator cantik dapil NTB ini juga menyinggu istimewanya Ramadan 2026 yang beririsan dengan pelaksanaan ibadah Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu. Penguatan toleransi menjadi hal yang mutlak, terlebih Provinsi NTB menjadi wadah bagi beragam suku agama dan etnis.

“Pemerintah sekarang mengeluarkan kebijakan, agar suka cita merayakan malam Lebaran dengan batas waktu tertentu. Kebijakan ini diambil demi toleransi, yang diatur dalam kebebasan setiap warga negara untuk memeluk agamanya masing – masing. Jadi yang muslim harus menghargai umat Hindu melaksanakan ibadahnya, begitupun umat Hindu selama ini selalu turut terlibat dalam menjaga ketertiban daerah agar umat muslim khusyuk melaksanakan ibadah,” jelas Evi Apita Maya.
Jadi momentum ini lanjut Evi Apita Maya, tidak hanya dipandang dari sisi spiritual melainkan juga menjadi aktualisasi nilai – nilai kebangsaan.
aNd



