Lombok Barat – Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menghadiri Serah Terima Jabatan (Sertijab) Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Provinsi NTB yang digelar di Kantor BRMP NTB, Selasa (10/2). Dalam kegiatan tersebut, jabatan Kepala BRMP NTB resmi diserahterimakan dari Awaludin Hipi kepada Hendro Cahyono.
Dalam sambutannya, Gubernur menyampaikan kehadirannya sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi atas kerja sama yang telah terjalin, khususnya dalam pelaksanaan program Optimalisasi Lahan (Oplah) di NTB.
Ia menegaskan dukungan BRMP NTB sepanjang 2025 memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani.
“Alhamdulillah di tahun 2025 kita bisa menyelesaikan oplah di 10.400 hektare. Saya menyampaikan terima kasih atas nama pribadi dan atas nama petani,” ungkap Gubernur.
Gubernur menjelaskan, keberhasilan program oplah mendorong peningkatan indeks pertanaman (IP), dari IP 100 menjadi IP 200, serta dari IP 250 menjadi IP 300. Selain itu, Nilai Tukar Petani (NTP) NTB juga mengalami peningkatan dari 123 menjadi 131, yang dinilai sebagai indikator membaiknya kesejahteraan petani.
Pada kesempatan tersebut, Gubernur menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi sebagai kunci masa depan pertanian NTB, terutama di tengah keterbatasan peluang ekstensifikasi lahan.
“Kuncinya ada di teknologi. Dari hulu sampai hilir semua sudah teknologi tinggi. Mulai dari pembenihan, penanaman, pemupukan, pengawasan sampai panen,” tegasnya.
Ia juga mendorong modernisasi petani agar pemanfaatan teknologi tidak hanya sebatas penggunaan telepon pintar untuk media sosial, tetapi diarahkan pada teknologi pertanian, seperti pemantauan pH tanah dan kebutuhan unsur hara tanaman.
Sementara itu, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian RI Fadjri Djufry menyampaikan bahwa BRMP memiliki tugas utama menyiapkan rekomendasi teknologi pertanian spesifik lokasi di seluruh wilayah Indonesia. Menurutnya, meskipun sektor pertanian menjadi kewenangan pilihan dalam kerangka otonomi daerah, peran BRMP tetap strategis dalam mendukung pemerintah provinsi serta kabupaten/kota.
Ia juga menegaskan dukungan Kementerian Pertanian untuk menjadikan NTB sebagai salah satu pusat pengembangan benih bawang putih nasional, khususnya melalui potensi kawasan Sembalun.
“Kita ingin jadikan NTB pusat penyiapan benih bawang putih dulu. Karena di Sembalun itu potensinya sangat baik. Ada varietas yang kita coba, produktivitasnya lebih dari 20 ton bahkan sampai 24–25 ton,” ungkapnya.
Program tersebut, lanjut Fadjri, sejalan dengan target pemerintah pusat untuk mengurangi ketergantungan impor bawang putih yang saat ini masih mencapai ratusan ribu ton per tahun.
