Lombok Tengah – Sosialisai 4 Pilar Kebangsaan dari anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Evi Apita Maya di Madrasah Aliyah Nurul Hidayah Desa Rembita Kuta Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat, menyinggung persoalan konflik yang terjadi di Timur Tengah. Peristiwa ini disebutnya menjadi titik balik bagi Negara Kesatuan Indonesia, untuk menguatkan solidaritas nasional akibat dampak krisis global yang diakbatkan.
Evi Apita Maya mengatakan konflik ini menjadi ujian nyata sekaligus cerminan kuatnya pilar kebangsaan Indonesia. Situasi ini menuntut stabilitas internal yang kokoh melalui penguatan persatuan, ideologi pancasila, dan politik luar negeri bebas aktif.
“Banyak yang menghembuskan situasi ini menjadi perang sara, antara kaum muslim dan yahudi. Namun terlepas dari itu, dampak yang terjadi ini secara global. Di Indonesia kita dihadapkan dengan ancaman diskriminasi agama, goyangnya tatanan sosial dan ekonomi negara,” ujarnya.
Dijelaskannya, berdasar 4 Pilar Kebangsaan yang meliputi Pancasila, Undang – Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika, Indonesia kini membutuhkan penguatan fundamental ekonomi. Hal ini didorong dari peran seluruh pihak untuk meredam dampak dari konflik.
Disisi lain, Indonesia juga tetap konsisten menempuh jalur diplomasi untuk mewujudkan perdamaian dunia. “Namun sejatinya perdamaian itu harus tercermin dari internal bangsa dulu. Masyarakat yang tetap rukun dengan stabilitas keamanan yang terjaga. Barulah kita bisa bersuara untuk perdamaian orang lain, dan mengambil bagian dalam perjuangan rasa keadilan bagi pihak yang bersengketa,” ujarnya.
Konflik yang terjadi di Timur Tengah, menurut Evi Apita Maya menjadi pendekatan yang baik untuk meneguhkan 4 Pilar Kebangsaan kepada pelajar para generasi muda. Setiap poinnya telah jelas, begitupun azaz yang terkandung dalam pilar kebangsaan tersebut bermuara pada satu hal yakni menjaga ketentraman dan perdamaian bagi negaranya sendiri.
“Secara umum eskalasi Timur Tengah, berakar pada masalah ideologi, intervensi asing, dan ekonomi, menuntut Indonesia untuk terus memupuk persatuan dalam kebhinekaan sebagai pelindung dari dampak krisis luar negeri,” jelasnya.
aNd
