Lombok Tengah – Hadirnya Sirkuit Mandalika yang seharusnya dapat memberi manfaat bagi pedagang kecil di kawasan wisata Pantai Seger Kecamatan Pujut Lombok Tengah, kini justru berbalik meredup. Tepat setelah Sirkuit indah yang menjadi wajah baru bagi Indonesia itu, mulai dijajal kompetisi balap internasional, diikuit oleh kebijakan – kebijakan yang dinilai tidak pro rakyat.

Kebijakan menutup akses menuju kawasan ini, seakan mematikan peluang ekonomi bagi Sriati dan pedagang kecil lainnya yang kini jumlahnya sudah tidak banyak lagi. Padahal wisata budaya Putri Mandalika Lombok yang mempercantik pemandangan Sirkuit Mandalika, seharusnya dapat menjadi sumber pematik transaksi ekonomi yang menjanjikan bagi pedagang disekitarnya, dari gambaran tingginya kunjungan wisata yang ingin menyaksikan balap dari bukit – bukit tinggi yang tepat berada disekitarnya.

Sriati adalah satu dari dua pedagang kecil dikawasan Pantai Seger, yang berada tepat dihadapan tikungan 10 Sirkuit Mandalika. Terdapat dua bukit tinggi, yang tadinya diharapkan Sriati, akan menjadi spot menonton tanpa tiket yang keren dikawasan ini. Sehingga peluang ekonominya sudah terlihat didepan mata.

Namun harapan itu pupus, apalah daya Sriati dan pedagang kecil sebelahnya ketika kebijakan wisata pada momen gelaran balap masuk campur tangan unsur TNI – Polri. Akses menuju lokasi ini ditutup total dengan penjagaan ketat jajaran Polisi dan beberapa pasukan loreng.

“Ndak ada yang belanja, karena ditutup Polisi. Sepi, tidak ada yang datang berkunjung lagi di Pantai Seger atau Bukit Merese. Pintu masuknya dijaga banyak Polisi dan TNI, kata Sriati pada Minggu (14/11).

“Mendapat kebanggaan, namun menutup peluang ekonomi,” begitulah singkat yang diucapkan Sriati ketika ditanya tentang hadirnya Sirkuit Mandalika di tanah kelahirannya itu. Berharap dirinya bisa melayani ratusan orang pengunjung wisata yang larut dalam keseruan menyaksikan balapan pada setiap momen penyelenggaraan. Namun belasan kotak makanan ringan dan minuman yang telah dipersiapkannya jauh – jauh hari, justru tidak banyak berkurang dalam sehari.

“Sampai sore ini baru dapat 400 ribu rupiah. Baru dapat segitu setelah pintu didepan sudah dibuka oleh pak Polisi. Dari pagi jualan cuma polisi dan tentara yang berjaga ini saja yang belanja,” ucapnya seraya menutup usahanya karena sudah fajar.

Usaha dagang Sriati telah berdiri jauh sejak Sirkuit Mandalika terbangun dan bahkan belum direncanakan Pemerintah. Setiap momen budaya “Bau Nyale” (tradisi menangkap cacing laut), diakuinya sebagai momentum yang menguntungkan, karena mengundang ribuan wisatawan dari berbagai daerah datang berkunjung.

Sriati merupakan satu dari puluhan pedagang kecil dikawasan tersebut, kini terdampak pembangunan Sirkuit Mandalika mesti tidak secara langsung. Ia berharap agar pemerintah meninjau lagi kebijakannya, agar pedagang kecil dapat merasakan kebanggaan dan tetap produktif untuk menjaga ketahanan ekonomi keluarga.

aNd